Mari Mengenal Tekhologi Pengolahan Sampah Organic

Mari Mengenal Tekhologi Pengolahan Sampah Organic. Teknologi Pengolahan Sampah Organic adalah salah satu metode mengolah sampah menjadi lebih bermanfaat. Dalam keseharian kita pasti tidak pernah lepas dari yang namanya sampah. Bahkan jumlah sampah yang terlampau banyak, kini menjadi salah satu masalah utama yang perlu diperhatikan oleh negara.

teknologi pengolahan sampah organic
teknologi pengolahan sampah organic

Untuk mengetahui teknologi pengolahan sampah organic maka kita perlu mengetahui dulu pembagian jenis sampah. Bila di klasifikasikan sampah terbagi menjadi beberapa jenis. Berdasarkan sifatnya sampah dibagi menjadi sampah organik (degradable) yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, serta lain sebagainya.  Jika mengenai informasi terbaru dan terlnegkapnya Anda juga bisa simak di situs aspirasi terblengkap.

Berikutnya adalah sampah anorganik (undegradable) yaitu sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastic wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, gelas minuman, kaleng, botol, dan lain sebagainya.

Sampah jenis unorganik dapat dijual kembali atau disebut sampah komersial. Sampah anorganik yang dapat dijual antara lain plastik, botol, kaleng, gelas bekas minuman, dan kertas. Untuk sampah organic sendiri bisa dijual lagi tidak? Tentu bisa. Namun untuk dijual kembali sampah organic perlu diolah terlebih dahulu. Sampah organic dapat diolah menjadi pupuk kompos. Dalam artikel kali ini kita akan lebih membahas mengenai teknologi pengolahan sampah organic tersebut.

Berikut adalah beberapa teknologi pengolahan sampah organic :

Sanitarry Landfill

Teknologi pengolahan sampah organic dengan sanitary landfill adalah dengan cara menumpuk atau mengumpulkan sampah di lokasi yang cekung kemudian memadatkannya lalu menimbunnya dengan tanah. Untuk pemilihan lokasi biasanya mencari lokasi yang jauh dengan lingkungan masyarakat untuk menhindari polusi akibat bau yang menyengat karena pembusukan sampah. Hal ini dilakukan untuk menghindari tersalurnya bibit penyakit ke pemukiman warga.

Sanitary landfill pada umumnya adalah teknologi pengolahan sampah organic yang banyak dilakukan di berbagai negara tidak terkecuali Indonesia. Banyak TPA yang menggunakan metode ini sebab metode ini tergolong lebih mudah dan mudah untuk dilakukan.

INCINERACY

Teknologi pengolahan sampah organic berikutnya alah incinerarcy atau proses pembakaran sampah yang kemudian menjadi gas dan abu. Gas yang dihasilkan lalu dibersihkan kemudian dilepaskan keudara berupa karbondoksida atau gas lain. Lalu kemudian abunya dibuang ke TPA untuk dicampurkan dengan bahan lain sehingga menjadi produk yang lebih berguna. Panas yang dihasilkan dapat digunakan sebagai sumber pembangkit listrik.

Teknologi pengolahan sampah organic dengan Insinerator dinilai mampu mengurangi volume sampah hingga 95-96%, tergantung komposisi dan derajat recovery sampah. Pada prakteknya insinerasi tidak sepenuhnya mengganti penggunaan lahan sebagai area pembuangan akhir, tetapi insinerasi mengurangi volume sampah yang dibuang dalam jumlah yang cukup signifikan. Insinerasi memiliki banyak manfaat dalam mengolah berbagai jenis sampah seperti sampah medis dan beberapa jenis sampah berbahaya di mana patogen dan racun kimia bisa hancur dengan temperatur yang  tinggi.

Teknologi pengolahan sampah organic dengan Insinerasi sangat populer di beberapa negara seperti Jepang yang lahannya merupakan sumber daya yang sangat langka. Denmark dan Swedia juga telah menjadi pionir dalam menggunakan panas dari insinerasi untuk menghasilkan energi. DI tahun 2005, insinerasi sampah menghasilkan 4,8% energi listrik dan 13,7% panas yang dikonsumsi negara tersebut. Beberapa negara lain di Eropa yang mengandalkan insinerasi sebagai pengolahan sampah adalah Luksemburg, Belanda, Jerman, serta Perancis.

Teknologi Pengomposan

Teknologi pengolahan sampah organic dengan teknologi pengomposan adalah proses biologi yang dilakukan oleh mikroorganisme untuk mengubah limbah padat organik menjadi produk yang stabil menyerupai humus. Proses pengkomposan ini pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kriteria yakni berdasarkan penggunaan oksigen, suhu serta pendekatan teknik.

Apabila penggunaan oksigen sebagai dasar, maka pembagiannya adalah aerobik (kondisi dengan menggunakan oksigen) dan anaerobik (kondisi tanpa oksigen). Dalam teknologi pengolahan sampah organic dengan teknologi pengomposan proses pembuatan kompos secara aerob memanfaatkan jasad renik aerob dan ketersediaan oksigen selama proses berlangsung. Dalam prosesnya biasanya dicirikan oleh suhu yang tinggi, tidak berbau busuk dan dekomposisinya lebih cepat bila dibandingkan dengan proses yang anaerob.

Pengkomposan sampah organik dapat dilakukan pada skala rumah tangga atau home composting, skala kawasan dan skala besar atau centralised composting. Pengkomposan  skala rumah tangga ini dapat menggunakan komposter yang terbuat dari tong atau kotak bekas, sistem timbun di dalam tanah serta vermicomposting atau pengkomposan dengan budidaya cacing. Pengkomposan skala kawasan dapat menggunakan sistem open windrow, bak aerasi, atau bisa juga dengan sistem cetak. Sedangkan untuk pengkomposan skala besar biasanya menggunakan sistem open windrow.

Baca Juga : http://aspirasi.blog.st3telkom.ac.id/2019/03/20/pekerjaan-manusia-siap-diganti-robot/

Nah itu tadi beberapa teknologi pengolahan sampah organic yan umum dilakukan diberbagai negara. Namun dengan adanya teknologi yang semakin canggih bukan berarti kita bebas buang sampah sembarangan ya guys. Tetaplah menjaga kebersihan agar teknologi pengolahan sampah organic menjadi lebih mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *